Merenungi Mimpi Si Pendobrak Zaman
Posted, on April 10 2010Bahid Arofat
http://majalah.tempointeraktif.com/
kelahiranku, kehidupan untuk ilmuku dan keahlianku....
”…Aku akan mati di puncak kejayaanku. Tanpa cinta. Tanpa rindu…,”demikian tutur dramawan Bertolt
Brecht, seperti dikutip Ronald Hayman dalam Brecht,
A Biography.
Ini sebuah nada depresi. Tetapi Brecht, seperti juga drama-dramanya, adalah simbol dari
pemberontakan dalam nada balada. Puluhan opera dan baladanya adalah serangkaian nyanyian
pemberontakan yang menampilkan kritik sosial yang tajam. Dan, tampaknya, itulah sebabnya naskah
Brecht selalu menarik hati para dramawan Indonesia, seperti halnya N. Riantiarno, yang dikenal
selalu menampilkan kritik sosial melalui pertunjukannya.
Opera Ikan Asin disadur dari naskah Brecht yang berjudul asli Die Dreigroschenoper. Naskah yang
ditulis dalam bahasa Jerman itu sesungguhnya sebuah drama yang berwarna muram dan pedih. Tetapi,
Riantiarno—melalui humor yang kritis—kemudian menyulapnya menjadi sebuah operetta yang tetap
manis. Bagaimanapun, adalah Riantiarno yang kemudian memasyarakatkan karya-karya Brecht melalui
Teater Koma.
Lahir di Augsburg, Jerman, dengan nama Eugen Berthold Friedrich Brecht, pada 10 Februari 1898, ia
adalah putra pasangan kelas menengah Berthold Friedrich Brecht dan Wilhelmine Friederike Sophie
Brezing. Sejak kecil, Brecht sudah menunjukkan tanda-tanda ”pemberontakan”. Ia menolak berlatih
piano, biola, gitar. Ia melawan aturan-aturan rumah, dogma agama, dan tatanan sosial yang,
menurutnya, berbau borjuis. Keluarganya mengenal Brecht kecil sebagai pemimpi yang gemar
merenung. Bakat menulisnya sudah cemerlang sejak kecil. Ia sempat melewati hidup yang
konvensional sebagai pekerja di rumah sakit tentara pada usia 20 tahun—sebelum menjadi seniman
besar. Sikap antiborjuisnya makin tegas setelah Perang Dunia I. Ia mulai menulis karya yang
menunjukkan warna-warna pemberontakan. Baal (1923), karya pertamanya, menimbulkan heboh pada masa
itu karena ia menulis tentang petualangan seksnya melalui Baal, Dewa Kesuburan dalam Alkitab.
Brecht memang perayu ulung yang dapat menarik lawan jenisnya dengan cerdik dan elegan, dengan
kecupan di punggung tangan. Dua perkawinannya—dengan Marianne Zoff dan Helena Weigel—diselingi
sekian penyelewengan. Wanita yang sulit ditaklukkan adalah besi berani yang menantang energi dan
imajinasinya.
Pada 1928, ia memproklamirkan diri sebagai komunis sejati dan tumbuh menjadi sastrawan dan
dramawan berhaluan kiri yang paling terkenal pada zamannya. Ia membuat terobosan baru dalam seni
pertunjukan teater. Karya-karya epiknya—ringan, lugas, mudah dipahami—bertentangan dengan gaya
berteater Jerman umumnya pada masa itu. Ia menulis puluhan karya sepanjang hidupnya. Die
Dreigroschenoper atau Opera Ikan Asin, sebuah opera balada yang ditulis 71 tahun silam,
menggambarkan semangat sang pengarang memerangi kemapanan sosial. Satu hal yang nyata
diperlihatkan Brecht sepanjang hidupnya adalah kemampuannya merenungi mimpi-mimpi yang jauh
melampaui batas zaman: menampilkan sikap antiborjuis yang tegas di tengah lingkungan dan budaya
borjuis, dan terus meyakininya sebagai kebenaran. Sebuah sikap yang ternyata tetap aktual satu
abad lebih setelah kelahirannya—seperti yang diinterpretasikan Nano Riantiarno dalam Opera Ikan
Asin sepanjang dua pekan, April ini.
Pada 1933, Brecht dibuang ke Skandinavia. Delapan tahun kemudian, ia diasingkan ke Amerika.
Tampaknya, ia bukan sosok yang dicintai tanah airnya. Kewarganegaraannya dicabut, buku-bukunya
dibakar, dan ia diasingkan dari pentas teater Jerman. Periode 1937-1941 melahirkan karya-karya
terbaiknya, antara lain Mother Courage and Her Children (1940). Delapan tahun kemudian, ia
kembali ke tanah airnya. Setahun kemudian, ia meninggal di Berlin Timur. Ia meninggalkan puluhan
naskah drama dan sebuah konsep tentang kegetiran hidup rakyat kecil.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar